Artikel
SEJARAH DESA HULAAN
Desa Hulaan terbagi menjadi 3 (tiga) bagian wilayah administrasi, diantaranya dusun Hulaan, dusun Tlogobedah, dan dusun Sidomulyo. Dusun-dusun tersebut memiliki cerita sejarah tersendiri namun masih saling berkaitan satu dengan lainnya. Menurut cerita masyarakat dusun Hulaan, konon cerita ada se-ekor gajah besar yang masuk wilayah mereka dan menyebabkan penduduk sekitar menjadi panik akan kehadiran gajah tersebut, akhirnya warga memutuskan untuk mengusir gajah dengan cara meneriaki menggunakan perkataan “ Hula-hula ” dan akhirnya gajah berhasil diusir keluar dari wilayah mereka. Sejak kejadian itu penduduk setempat menamai wilayahnya dengan nama “HULAAN”. Dusun Hulaan sendiri memiliki wilayah Pedukuhan yakni Genengan.
Dusun Tlogobedah memiliki cerita hikayat sendiri dari masyarakat setempat, konon pada jaman dahulu wilayah tersebut awal mulanya bernama “Pecangkrangan” dikarenakan sering terjadi wabah cangkrang (penyakit cacar) yang menyerang penduduk setempat. Entah bagaimana asal mulanya, perlahan-lahan masyarakat yang terkena wabah berangsur sembuh. Menurut sumber yang ada, menyebutkan bahwa wabah penyakit cacar yang menyerang penduduk setempat berhasil dihilangkan oleh seorang pemuda pengembara yang dalam akhir perjalanannya singgah di telaga dan konon cerita beliau adalah seorang tentara Majapahit.
Singkat cerita, pemuda pengembara itu terlibat perkelahian dengan pemuda pengembara lainnya yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Belum diketahui penyebabnya mereka terlibat dalam pertarungan, keduanya tega membunuh satu sama lainnya (istilah jawa; tega pati) sehingga pada akhirnya kedua pemuda bersaudara itu meninggal dunia. Akhirnya penduduk setempat mengganti nama desa menjadi desa “Tegopati”.
Seiring berjalannya waktu ada sekawanan gajah dari arah utara desa yang menerobos tanggul tlogo (telaga) di daerah Tegopati. Karena telaga selalu jebol diterobos oleh kawanan gajah maka penduduk setempat mengganti nama wilayahnya menjadi “TLOGOBEDAH”. Hingga cerita ini ditulis, bendungan telaga yang dibuat tanggul untuk desa selalu jebol sampai 2 (dua) kali.
Sedang Karangpoh sendiri, sebagian masyarakatnya menyebut bahwa wilayah tersebut merupakan bagian pedukuhan dari dusun Hulaan, namun mayoritas mengatakan bahwa Karangpoh sudah menjadi dusun tersendiri, meski secara administratif tidak tercatat dalam administrasi Desa. Bernama “KARANGPOH“ menurut cerita masyarakat setempat dikarenakan wilayah tersebut banyak pekarangan pohon mangga yang istilah jawa disebut “ Pekarangan Poh ”.
Dusun Sidomulyo sendiri sebelumnya masuk wilayah dusun Tlogobedah, baru muncul setelah kemerdekaan yakni sekitar tahun 60-an, penduduknya kebanyakan adalah pendatang dari desa sekitar dan rata-rata sumber dayanya lebih pandai dari penduduk asli Tlogobeda. Kemunculan dusun Sidomulyo murni karena kebutuhan masyarakat asli tlogobedah maupun pendatang untuk membuat dusun sendiri (mekar). Mereka menggelar rapat bersama untuk memisahkan diri dari dusun Telogobedah dan memberi nama dusun baru itu dengan nama “SIDOMULYO” dengan harapan agar penduduk wilayah terebut diberikan kemulyaan dalam kehidupannya.
Adapun kepala desa yang perna menjabat hingga sekarang adalah :
- KADIR ( 1940 s.d 1946 )
- AMINAH (1947 s.d 1957 )
- SHOLIKIN ( 1958d 1983 )
- AMALAN ( PJ KADES ) ( 1984 s.d 1989 )
- KASIADI SOEDARMO ( 1990d 1997 )
- DJAINURI. MS (1998 s.d 2005)
- SAID ( 2006d 2019)
- HAMDANI WIDIANTO (2019 s.d Sekarang)